Sumur Bandung Pendowoharjo, Sejarah Lama yang Belum Sempat Terkuak Media

heri subekti 10 April 2026 16:07:09 WIB

PENDOWOHARJO---- Tak jauh dari kompleks Kantor Kalurahan Pendowoharjo yang merupakan jantung aktifitas pemerintahan masyarakat pendowoharjo, tersibak sebuah lokasi bersejarah yang menarik untuk dikunjungi. Tepatnya 800 meter sebelah timur dari pusat pemerintahan Kalurahan Pendowoharjo, berdiri Padukuhan Bandung, yang merupakan bagian dari wilayah Kalurahan Pendowoharjo, Kapanewon Sewkn, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Salah satu padukuhan yang menyimpan cerita sejarah yang patut kita telaah lebih dalam. Ya, disanalah kita dapat menemui warisan sejarah berupa "Sumur Bandung". Sebuah situs lokal yang mempunyai cerita sejarah yang cukup menarik. Situs Sumur Bandung, terletak persis di sebelah barat bangsal Makam Bandung dan Mushola Jagad Bawono Eling ing Pati. Suasana yang masih asri, diiringi gemercik air sungai kecil dan area persawahan yang masih terjaga membuat suasana tenang serasa membawa kita ke zaman dulu kala, mengalahkan hiruk pikuk bisingnya jalan bantul di sebelah barat lokasi sumur bandung.

Asal Usul Sumur Bandung antara Mitos dan Sejarah

Sumur Bandung bukanlah sekadar lubang galian air biasa. Sumur Bandung adalah jejak literasi lisan yang menghubungkan masyarakat Pendowoharjo dengan fragmen sejarah masa lalu. Konon menurut cerita lisan secara turun temurun, keberadaan sumur ini sering dikaitkan dengan tokoh Ki Ageng Mangir IV, Bagus Wanabaya. Bagus Wanabaya merupakan trah Brawijaya V yang punya kesaktian luar biasa. Meski masih berusia belia, Bagus Wanabaya mempelajari ilmu kasepuhan dan mempunyai senjata andalan berupa tombak baru klntning. Suatu ketika Bagus Wanabaya memukul tanah hingga memancarkan air yang tak pernah kering. Nama "Bandung" sendiri secara harfiah dalam bahasa jawa sering dimaknai sebagai "bendungan" atau 'kekuatan besar yang terkumpul'. Sumur Bandung tidak seperti layaknya sumur biasa pada saat ini yang digali manusia, dikaish buis atau dibikin tepian sumur (jubung, dalam istilah jawa). Namun berupa lubang bulat alami yang tidak bertepi. Konon air sumur bandung tersebut terhubung langsung ke segoro kidul/pantai selatan jawa.

Dalam perspektif lain, sumur ini dianggap sebagai penanda pemukiman awal pengikut Ki Ageng Mangir Wanabaya yang bernama Ki Gede Suromojo yang merupakan "Cikal Bakal" warga bandung yang pertama kali disemayamkan di salah satu Makam Bandung. Ki Gede Suromojo menjadikan tempat ini sebuah "paku bumi" bagi keseimbangan alam di selatan Yogyakarta.

Hal tersebut dituturkan oleh Rubiyanto Hadi Prayitno, salah satu tokoh masyarakat yang juga menjadi Juru Kunci Makam Bandung. Mbah Rubi yang sekarang berumur 63 tahun, menceritakan bahwa lokasi sumur bandung sekarang berada di tanah orang tuanya. Masih segar dalam ingatan mbah rubi bahwa dulu daerah sini (sumur bandung-red) adalah wilayah ledok, banyak blumbangnya (kolam), dan rimbun. Banyak pohon pring (bambu) dan gayam. Fakta bahwa pohon bambu dan gayam merupakan pohon penjaga mata air semakin meyakinkan bahwa memang daerah sekitar sumur bandung merupakan wilayah loh (area yang banyak air nya).

Aspek Fisik Arsitektur

Kalau kita berbicara terkait sumur, mungkin yang ada di benak kita adalah sebuah lubang galian yang dikasih buis atau dibuat dengan batu bata, untuk dimanfaatkan sumber airnya. Namun, sumur bandung tidak seperti layaknya sumur biasa pada saat ini. Menurut penuturan mbah Rubi, sujur bandung berupa lubang bulat alami yang tidak bertepi, hanya dikasih batu alam yang ditata melingkar. Tidak ada bangunan berupa tiang dari semen atau sejenisnya yang berdiri diatasnya. Dan konon air sumur bandung tersebut terhubung langsung ke segoro kidul/pantai selatan jawa. Saking derasnya air sumur tersebut, pernah ada bebrapa ekor angsa yang masuk ke sumur tersebut, seketika itu juga hilang hanyut sampai ke pantai selatan.

Tak sebatas itu, ternyata di dekat petilasan juga meninggalkan Selo Lumpang sebanyak 3 buah yang masih bisa terdokumentasikan dengan baik oleh Tim Medsos Pendowoharjo, Kamis (09/04/2026). Selo Lumpang konon katanya dahulu dipercaya untuk ngombor Jaran, artinya sebagai wadah untuk memberi pakan minum kuda jaman dahulu. Selain itu, juga diceritakan bahwa di lokasi Sumur Bandung yang sudah tertutup itu banyak ditemukan perhiasan emas atau barang antik, seperti guci dan lain sebagainya. Fakta selo lumpang tersebut mempertegas bahwa daerah sumur bandung merupakan kawasan yang ditempati oleh masyarakat pada zaman dulu, bukan kawasan hutan belantara tanpa penghuni.

Namun, seiring berjalannya waktu, area sumur bandung kini menjadi kawasan padat penduduk. Dan karena faktor keamanan, sumur bandung yang dulu tidak bertepi mulai dibuatkan batas yang jelas menggunakan bata semen, atasnya ditutup pakai kayu jati dan ditimbun tanah. Saat ini tidak nampak air dan lubang sumur nya.

Nilai Sosi Budaya: Spiritualitas yang Mengalir

Memasuki Padukuhan Bandung, terutama area Sumur Bandung, saat ini kita tidak akan melihat struktur fisik batu dan air, tetapi merasakan denyut nadi spiritualitas. Hingga kini, sumur ini menjadi episentrum dalam berbagai ritual, seperti yang dilakukan oleh kelompok kanuragan/pencak silat, lokasi sumur bandung digunakan untuk sarana ziarah umbul doa. Selain itu, banyak warga masyarakat terutama dari luar daerah yang mengambil tanah disekitar area sumur bandung untuk mengobati anggota keluarga yang sakit. Seperti apa yang diungkapkan oleh mbah Rubiyanto Hadi Prayitno, Juru Kunci Makam Bandung menjelaskan bahwa dulu banyak orang dari Luar Jogja datang ke sini untuk melihat Sumur Bandung bahkan banyak yang memiliki sugesti untuk berobat juga.

"Dulu Pas Jaman Covid Melanda, ternyata sebagian warga juga ada yang bermimpi dan mendapat wangsit bahwa sebentar lagi di wilayah sini akan ada pageblug atau bencana besar," tuturnya.

Merawat Ingatan di Kedalaman Sumur Bandung

Sumur Bandung Pendowoharjo bukan sekadar artefak fisik yang membeku dalam waktu, sumur bandung adalah "monumen hidup" yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan. Keberadaannya membuktikan bahwa peradaban sebuah desa tidak hanya dibangun di atas tanah, tetapi juga melalui pengelolaan sumber daya alam yang sarat akan makna spiritual dan filosofis.

Menjaga Sumur Bandung berarti kita sedang merawat identitas lokal agar tidak hanyut diterjang arus modernitas. Meskipun zaman terus berganti, nilai-nilai yang terpancar dari sumur ini yakni kerendahan hati, rasa syukur, dan harmoni dengan alam akan selalu relevan bagi siapa saja yang bersedia singgah dan merenung di tepiannya.

Pada akhirnya, mengunjungi Sumur Bandung adalah sebuah perjalanan pulang. Ia mengajak kita kembali menghargai hal-hal mendasar dalam hidup bahwa dari kesunyian sebuah sumur tua, kita bisa belajar tentang kejernihan budi dan keteguhan sejarah yang tak pernah kering oleh waktu.

"Jika Anda mencari ketenangan yang melampaui sekedar wisata visual, mampirlah ke Pendowoharjo. Biarkan Sumur Bandung berbicara tentang cerita-cerita yang tak sempat tertulis di buku sejarah, namun abadi di hati masyarakatnya." (Tim Medsos Pendowoharjo)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar atas artikel ini, silakan tuliskan dalam formulir berikut ini

Formulir Penulisan Komentar

Nama
Alamat e-mail
Komentar
Isikan kode Captcha di atas
 
Kebijakan Privasi

Website desa ini berbasis Aplikasi Sistem Informasi Desa (SID) Berdaya yang diprakarsai dan dikembangkan oleh Combine Resource Institution sejak 2009 dengan merujuk pada Lisensi SID Berdaya. Isi website ini berada di bawah ketentuan yang diatur dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik dan Attribution-NonCommercial-NoDerivatives 4.0 International (CC BY-NC-ND 4.0) License