Padukuhan Diro Sabet Nominasi Proklim Utama DIY Berkat Pengelolaan Lingkungan Berkelanjutan

heri subekti 13 Agustus 2026 09:39:14 WIB

PENDOWOHARJO ---- Padukuhan Diro, Kalurahan Pendowoharjo, Kapanewon Sewon, Kabupaten Bantul, berhasil menorehkan prestasi membanggakan di bidang pelestarian lingkungan. Padukuhan ini resmi terpilih menjadi salah satu nominasi penerima penghargaan Program Kampung Iklim (Proklim) Utama tingkat Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pada Kamis (18/06/2026) yang lalu di Bangsal Kepatihan kompleks Kantor Provinsi DIY. Penghargaan dan uang pembinaan diberikan langsung oleh Wakil Gubernur DIY Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo (KGPAA) Paku Alam X kepada Dukuh Diro, Nugroho Budinurcahyo, S.IP. Sebagai informasi, ProKlim (Program Kampung Iklim) adalah program nasional dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk melibatkan warga dan pemerintah lokal dalam aksi nyata mengurangi emisi gas rumah kaca serta menghadapi dampak perubahan iklim di tingkat tapak, baik itu RT, RW, dusun/padukuhan, atau desa/kalurahan. 

Ada 3 (tiga) fokus utama dalam ProKlim. Pertama adalah Adaptasi. Yaitu kegiatan untuk menyesuaikan diri dan menguatkan ketahanan warga dari cuaca ekstrem, banjir, atau kekeringan. Kedua yaitu Mitigasi. Sebuah Upaya menurunkan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) penyebab panas bumi, seperti menanam pohon, menghemat energi, dan mengolah sampah. Dan yang ketiga adalah Kelembagaan, yang merupakan sebuah komponen kerja sama dengan kelompok masyarakat yang aktif menjaga lingkungan secara terus-menerus. Ketiga fokus utama tersebut harus saling mengisi dan bertautan satu sama lain. Tidak boleh tidak.

Pencapaian Padukuhan Diro tersebut tidak lepas dari komitmen dan partisipasi aktif warga dalam merespons perubahan iklim melalui berbagai inovasi berbasis komunitas. Dukuh Diro ketika ditemui tim media sosial Kalurahan Pendowoharjo menjelaskan pencapaian tersebut tidak lepas dari peran masyarakat. "Alhamdulillah kita (Padukuhan Diro-red) mendapatkan predikat Proklim Utama Provinsi DIY di tahun 2026 ini. Sebuah pencapaian yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya. Karena kegiatan kita sehari-hari ya memang seperti itu, mengelola sampah, bertani dan gotong royong," jelas Nugroho. "Tentunya predikat Proklim Utama tidak bisa lepas dari peran serta masyarakat. Kalau masyarakat tidak bergerak, sehebat apapun pemimpinnya pasti tidak bisa terwujud, " tambah Dukuh Diro. "Semoga dengan Predikat Proklim Utama, warga masyarakat akan lebih aware terhadap lingkungan sekitar kita, karena upaya kita bukan untuk diri kita saat ini. Tap untuk anak cucu generasi kita mendatang, semoga menjadi warisan yang berharga dan akan selalu dikenang sepanjang zaman, seperti slogan kita (Padukuhan Diro-red) yaitu Diro Mandhira Tanora Sirna (Mandhira adalah nama cikal bakal Padukuhan Diro, Tanora Sirna berarti tidak akan pernah hilang/sirna)," pungkas pria berkacamata tersebut.

Empat program unggulan yang menjadi pilar utama Padukuhan Diro dalam ajang ini adalah pengelolaan sampah terpadu, pemanfaatan air hujan, dan integrated farming (pertanian terpadu) Ketaman Asmoro, dan Pokdakan Mina Taruna.

​Empat Program Unggulan Padukuhan Diro

• ​Shodaqoh dan Bank Sampah Mandiri

Warga Padukuhan Diro secara konsisten memilah sampah rumah tangga dari sumbernya. Melalui Shodaqoh sampah dan Bank Sampah, sampah anorganik ditabung dan didaur ulang, sementara sampah organik diolah menjadi kompos, sehingga secara drastis mengurangi volume limbah yang dibuang ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).

 

• ​Pemanenan Air Hujan (Rainwater Harvesting)

Untuk mengantisipasi krisis air bersih serta meminimalisir risiko banjir saat musim penghujan, warga menginstalasi sistem pemanen air hujan di rumah-rumah dan fasilitas umum. Air hujan yang ditampung disaring dan dimanfaatkan kembali untuk kebutuhan sehari-hari serta penyiraman tanaman.

 

• ​Pertanian Terpadu (Integrated Farming) "Ketaman Asmoro" 

Ketaman Asmoro sendiri merupakan akronim dari Kelompok Tani Muda Milenial Aseli Menggunakan Kompos Goro. Yaitu kelompok tani yang mengubah lahan tebu yang tanahnya keras dan kurang subur menjadi lahan pertanian holtikultura. Langkah pertama yang menjadi fokus utama adalah pemuliaan tanah dengan cara memberikan pupuk kompos pada lahan tersebut. Pertanian terpadu Ketaman Asmoro menggabungkan sektor pertanian, peternakan, dan tempat pengelolaan sampah dalam satu siklus yang saling mendukung. Limbah peternakan dan sampah sisa makanan/sisa dapur rumah tangga diolah menjadi pupuk organik untuk tanaman pangan dan sayuran warga, sedangkan sisa tanaman dimanfaatkan kembali sebagai pakan ternak. Sistem ini berhasil memperkuat ketahanan pangan lokal sekaligus menciptakan ekosistem yang ramah lingkungan.

 

• Pokdakan Mina Taruna

Kelompok Pembudidaya Ikan merupakan kumpulan pelaku usaha di bidang perikanan budidaya yang bersepakat membentuk kelompok secara musyawarah untuk bekerja sama, meningkatkan produksi, serta memperkuat pemasaran hasil perikanan. Pokdakan Mina Taruna beranggotakan pemuda karang taruna di Padukuhan Diro. Ikan yang di budidaya antara lain lele dan nila. Pokdakan Mina Taruna mempunyai 10 kolam tanah dan bioflog. Sumber air yang digunakan selain dari air hujan juga dari air tanah. Yang menarik dari Pokdakan Mina Taruna, selain terjadi perputaran ekonomi di sini, air buangan dari kurasan pemanenan dimanfaatkan oleh masyarakat untuk irigasi sawah di sekitarnya. Sehingga hasil tanaman padi menjadi lebih subur.

​Dukungan penuh dari Pemerintah Kalurahan, kelompok wanita tani (KWT), pemuda, serta seluruh lapisan masyarakat menjadi kunci sukses Padukuhan Diro hingga bisa menembus nominasi tingkat provinsi. Melalui nominasi Proklim Utama ini, Padukuhan Diro diharapkan tidak hanya menjadi inspirasi bagi padukuhan lain di Kabupaten Bantul, tetapi juga terus konsisten mewujudkan wilayah yang tangguh, hijau, dan berkelanjutan dalam menghadapi dampak perubahan iklim global. (D13)

Belum ada komentar atas artikel ini, silakan tuliskan dalam formulir berikut ini

Formulir Penulisan Komentar

Nama
Alamat e-mail
Komentar
Isikan kode Captcha di atas
 
Kebijakan Privasi

Website desa ini berbasis Aplikasi Sistem Informasi Desa (SID) Berdaya yang diprakarsai dan dikembangkan oleh Combine Resource Institution sejak 2009 dengan merujuk pada Lisensi SID Berdaya. Isi website ini berada di bawah ketentuan yang diatur dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik dan Attribution-NonCommercial-NoDerivatives 4.0 International (CC BY-NC-ND 4.0) License