Padukuhan Diro Luncurkan Gerakan Samalia dan Garengpung

heri subekti 13 Agustus 2026 22:17:01 WIB

PENDOWOHARJO---- Pasca nominasi Program Kampung Iklim (Proklim) Utama tingkat DIY, Padukuhan Diro, Kalurahan Pendowoharjo, Sewon, Bantul, bergerak cepat melakukan intervensi lanjutan. Diprakarsai oleh Dukuh Diro, bekerjasama dengan Pokja PKK Padukuhan Diro, warga secara kompak meluncurkan program aksi iklim berbasis komunal yaitu penanaman jahe skala rumah tangga yang keren disebut Gerakan 'Samalia' (Satu Rumah Lima Jahe) dan aksi bersih-bersih lingkungan serentak bernama Garengpung (Gerakan Resik-resik Lingkungan Kampung). Langkah ini dirancang untuk memperkuat ketahanan pangan keluarga sekaligus menjaga sanitasi lingkungan secara konsisten dan berkelanjutan.

​Dua Fokus Utama Intervensi Lanjutan Kampung Iklim Padukuhan Diro.

Program 1 (Satu) Rumah 5 (Lima) Jahe atau disingkat Samalia.

Setiap kepala keluarga di Padukuhan Diro diwajibkan menanam minimal lima polibag atau pot tanaman jahe di pekarangan rumah masing-masing. Pemanfaatan lahan pekarangan ini bertujuan untuk memperkuat ketahanan pangan dan ketersediaan tanaman obat keluarga (TOGA), sekaligus menambah ruang terbuka hijau di lingkungan pemukiman. Amaliah merupakan ide dari Ketua Pokgiat LPMK Padukuhan Diro, Sumarna, M.Pd. ketika koordinasi intervensi Proklim. Sumarna mengusulkan menanam jahe karena terinspirasi dari Al Quran surat Al Insan ayat 17 yang artinya "Dan di sana mereka diberi segelas minuman bercampur jahe." Dalam ayat tersebut menjelaskan bentuk kenikmatan yang diberikan Allah kepada hamba-hamba-Nya yang taat (orang-orang berbuat kebajikan) di dalam surga. Minuman penduduk surga tersebut dicampur dengan jahe (zanjabil), yang memberikan kelezatan dan kehangatan rasa khas yang tentu jauh berbeda dan jauh lebih istimewa dibandingkan dengan rasa jahe di dunia.

Garengpung (Gerakan Resik-Resik Kampung)

Aksi membersihan lingkungan yang dimotori oleh Pokja PKK dengan melibatkan seluruh warga padukuhan. Kegiatan ini dilakukan secara serentak dalam satu waktu yang sama setiap dua bulan sekali. Fokus utamanya meliputi pembersihan saluran air, pengelolaan tempat penampungan air untuk mencegah sarang nyamuk, membersihkan halaman rumah, fasilitas umum padukuhan, jalan kampung serta pemilahan sampah di area publik padukuhan.

Ika Damayanti selaku penggerak kegiatan menerangkan bahwa gerakan resik-resik lingkungan kampung merupakan langkah kecil yang nantinya berdampak besar. "Inspirasinya diperoleh dari serangga Garengpung. Garengpung itu hewan nya kecil, tapi suaranya hampir bisa didengar oleh satu wilayah. Dan keberadaan suaranya menjadi penanda musim tertentu," ujar Ketua Pokja PKK Padukuhan Diro tersebut. "Dari filosofi tersebut, kami berharap keberadaan Garengpung (Gerakan Resik-resik Lingkungan Kampung) melalui aksi nyata yang sederhana dan kecil, namun apabila dilakukan serentak bersama-sama, tentunya bisa mengubah keadaan menjadi lebih baik, terutama bagi lingkungan sekitar kita," pungkas guru biologi tersebut.

​Konsistensi adalah kunci utama keberlanjutan Proklim. Melalui perpaduan pemanfaatan pekarangan dan aksi kolektif Garengpung, warga tidak hanya menjaga kelestarian alam, tetapi juga mempererat gotong royong antarwarga. Intervensi lanjutan ini diharapkan dapat semakin memperkokoh posisi Padukuhan Diro sebagai percontohan kampung iklim yang tangguh, mandiri, dan berbudaya lingkungan di Daerah Istimewa Yogyakarta. (D13)

Belum ada komentar atas artikel ini, silakan tuliskan dalam formulir berikut ini

Formulir Penulisan Komentar

Nama
Alamat e-mail
Komentar
Isikan kode Captcha di atas
 
Kebijakan Privasi

Website desa ini berbasis Aplikasi Sistem Informasi Desa (SID) Berdaya yang diprakarsai dan dikembangkan oleh Combine Resource Institution sejak 2009 dengan merujuk pada Lisensi SID Berdaya. Isi website ini berada di bawah ketentuan yang diatur dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik dan Attribution-NonCommercial-NoDerivatives 4.0 International (CC BY-NC-ND 4.0) License