Ketaman Asmoro: Oase Integrated Farming di Padukuhan Diro

heri subekti 04 Mei 2026 22:48:30 WIB

PENDOWOHARJO---- Ketaman Asmoro merupakan bukti nyata bagaimana inovasi dan kolaborasi tingkat lokal mampu menyulap lahan "lelah" menjadi pusat pangan yang produktif. Terletak di Padukuhan Diro, kawasan ini bertransformasi dari sekadar lahan bekas tebu menjadi model pertanian hortikultura yang berkelanjutan.

Transformasi Lahan dan Gagasan

Sekitar dua tahun lalu, Dukuh Diro menginisiasi sebuah gerakan untuk mengoptimalkan lahan bekas tanaman tebu yang ada di wilayahnya. Alih-alih membiarkan lahan tersebut konvensional, digagaslah konsep Ketaman Asmoro sebagai kawasan hortikultura yang kini dikenal luas sebagai percontohan integrated farming (pertanian terpadu). Ketaman Asmoro sendiri merupakan akronim dari Kelompok Tani Muda Milenial Aseli Menggunakan Kompos TPS Gotong Royong.

Pilar Keberlanjutan: Pupuk Organik & Mandiri

Kunci keberhasilan Ketaman Asmoro terletak pada sistem ekonomi sirkular dalam pengelolaan nutrisi tanamannya. Mereka tidak bergantung pada pupuk kimia mahal, melainkan memanfaatkan potensi lokal:

1. Pupuk Kandang: Suplai nutrisi utama didapat dari kandang kelompok yang berlokasi tepat di sebelah utara lahan.

2. Kompos TPS Goro (Posgoro): Hasil fermentasi sampah organik masyarakat yang dikelola secara mandiri, menciptakan siklus dari meja makan kembali ke lahan pertanian.

Model Pertanian Terpadu (Integrated Farming)

Ketaman Asmoro bukan sekadar kebun sayur. Sebagai kawasan integrated farming, terjadi sinergi antara peternakan, pengelolaan limbah, dan pertanian hortikultura.

• Input: Limbah ternak dan sampah rumah tangga.

• Proses: Fermentasi dan pengolahan kompos.

• Output: Produk hortikultura sehat (sayur-mayur) dan lingkungan yang bersih.

Model ini sangat efisien dalam menekan biaya produksi petani sekaligus menjaga kualitas tanah jangka panjang karena penggunaan bahan organik yang masif.

Pengakuan dan Studi Banding

Keberhasilan Ketaman Asmoro dalam dua tahun terakhir telah menarik perhatian berbagai instansi untuk melakukan studi tiru maupun observasi lapangan, di antaranya:

o Pemerintah Kalurahan Trucuk, Klaten: Melakukan kunjungan untuk mempelajari tata kelola lahan dan pemberdayaan warga.

o STIP Abdi Negara Jakarta: Menjadikan kawasan ini sebagai objek kajian akademis terkait pengembangan wilayah dan kemandirian pangan.

Ketaman Asmoro adalah prototipe ideal bagi desa-desa lain di Indonesia. Dengan kepemimpinan yang visioner dari perangkat desa dan partisipasi aktif warga dalam mengolah sampah menjadi berkah, lahan bekas tebu ini kini menjadi jantung hijau yang menghidupi Padukuhan Diro. (D13)

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar atas artikel ini, silakan tuliskan dalam formulir berikut ini

Formulir Penulisan Komentar

Nama
Alamat e-mail
Komentar
Isikan kode Captcha di atas
 
Kebijakan Privasi

Website desa ini berbasis Aplikasi Sistem Informasi Desa (SID) Berdaya yang diprakarsai dan dikembangkan oleh Combine Resource Institution sejak 2009 dengan merujuk pada Lisensi SID Berdaya. Isi website ini berada di bawah ketentuan yang diatur dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik dan Attribution-NonCommercial-NoDerivatives 4.0 International (CC BY-NC-ND 4.0) License