Menjaga Marwah Limasan Kembar, Jejak Sejarah dan Pengabdian di Padukuhan Bandung

heri subekti 16 April 2026 14:31:12 WIB

PENDOWOHARJO---- ​Di sudut Padukuhan Bandung, Kalurahan Pendowoharjo, Kapanewon Sewon, berdiri kokoh dua bangunan yang menjadi saksi bisu perjalanan waktu dan kerukunan keluarga. Dikenal sebagai Limasan Kembar, rumah milik Mbah Dalari dan Mbah Jumar ini bukan sekadar hunian, melainkan monumen hidup dari arsitektur tradisional Jawa yang masih terjaga keasliannya hingga saat ini. Tim media sosial Kalurahan Pendowoharjo berkesempatan mengunjungi rumah tersebut pada hari Jumat (10/04/26) untuk sekedar bercengkrama, sambil menikmati hawa masa lalu yang masih kental. Teh manis panas menemani bincang bincang ringan kami yang diterima ramah oleh pemilik rumah, Heri Tri Hantoro yang genap berusia 50 tahun, pewaris generasi ke 3 dari rumah tersebut.

 

Warisan Arsitektur Tahun 1954

Konon, menurut penuturan keluarga mbah Dalari, kedua bangunan limasan ini didirikan secara hampir bersamaan pada tahun 1954. Di tengah gempuran modernisasi, keberadaan bangunan ini sangat istimewa karena bentuk dan struktur utamanya masih dipertahankan sesuai aslinya. Kayu-kayu tua yang menopang atap limasan tersebut seolah bercerita tentang ketangguhan bangunan yang telah melewati berbagai zaman selama lebih dari tujuh dekade.

 

Rumah Mbah Dalari, Pusat Komunitas dan Estafet Generasi

​Sosok Mbah Dalari tidak bisa dilepaskan dari sejarah kepemimpinan lokal di Padukuhan Bandung. Sebagai seorang Dukuh pada masa itu, rumah beliau tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal keluarga, tetapi juga sebagai pusat kegiatan masyarakat. Halaman dan ruang dalamnya sering riuh oleh musyawarah warga, kegiatan gotong royong, pertemuan-pertemuan penting dusun, hingga hanya sekedar tempat bermain anak-anak pada zaman dulu. Kini, amanah untuk menjaga warisan sejarah ini telah memasuki generasi ketiga. ​Mbah Dalari menurunkan rumah tersebut kepada putranya, Pak Ambari.

 

Dari Pak Ambari, estafet penjagaan bangunan bersejarah ini diteruskan kepada Pak Heri Tri Hantoro yang saat ini genap berusia 50 tahun.

 

​Di tangan Pak Heri, Limasan Mbah Dalari tetap berdiri anggun, menjaga marwah sang kakek sebagai tokoh masyarakat yang selalu membuka pintu rumahnya untuk kepentingan orang banyak.

 

Rumah Mbah Jumar, Simbol Kerukunan Saudara

​Tepat di sampingnya, berdiri rumah kembarannya milik Mbah Jumar, adik dari Mbah Dalari. Keselarasan bentuk bangunan antara rumah kakak dan beradik ini mencerminkan keharmonisan keluarga yang telah dipupuk sejak dahulu. Saat ini, rumah Mbah Jumar telah diwariskan dan dirawat oleh putranya, Pak Haryono.

 

 

Keberadaan Limasan Kembar di Padukuhan Bandung ini adalah aset budaya yang tak ternilai bagi Pendowoharjo. Melalui komitmen Pak Heri Tri Hantoro dan Pak Haryono, bangunan ini tidak hanya menjadi bukti fisik sejarah keluarga, tetapi juga penjaga identitas arsitektur Jawa di tengah perkembangan zaman. ​"Rumah ini adalah pengingat, bahwa akar yang kuat akan menghasilkan dahan yang kokoh untuk melindungi generasi berikutnya." (D13)

Belum ada komentar atas artikel ini, silakan tuliskan dalam formulir berikut ini

Formulir Penulisan Komentar

Nama
Alamat e-mail
Komentar
Isikan kode Captcha di atas
 
Kebijakan Privasi

Website desa ini berbasis Aplikasi Sistem Informasi Desa (SID) Berdaya yang diprakarsai dan dikembangkan oleh Combine Resource Institution sejak 2009 dengan merujuk pada Lisensi SID Berdaya. Isi website ini berada di bawah ketentuan yang diatur dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik dan Attribution-NonCommercial-NoDerivatives 4.0 International (CC BY-NC-ND 4.0) License